KEBUTUHAN KEAMANAN FISIK (BIOLOGIC SAFETY) PADA KLIEN DI TEMPAT PELAYANAN KESEHATAN, RUMAH, DAN KOMUNITAS DENGAN PENDEKATAN PROSES KEPERAWATAN

Oleh: Ika Patmawati, SKp*

(* Penulis adalah staf pengajar pada Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta)

A. Pengertian Keamanan Fisik (Biologic Safety)

Keamanan adalah kebutuhan dasar manusia prioritas kedua berdasarkan kebutuhan fisiologis dalam hirarki Maslow yang harus terpenuhi selama hidupnya, sebab dengan terpenuhinya rasa aman setiap individu dapat berkarya dengan optimal dalam hidupnya. Mencari lingkungan yang betul-betul aman memang sulit, maka konsekuensinya promosi keamanan berupa kesadaran dan penjagaan adalah hal yang penting. Ilmu keperawatan sebagai ilmu yang berfokus pada manusia dan kebutuhan dasarnya memiliki tanggung jawab dalam mencegah terjadinya kecelakaan dan cedera sebagaimana merawat klien yang telah cedera tidak hanya di lingkungan rumah sakit tapi juga di rumah, tempat kerja, dan komunitas. Perawat harus peka terhadap apa yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi klien sebagai individu ataupun klien dalam kelompok keluarga atau komunitas.



Secara umum keamanan (safety) adalah status seseorang dalam keadaan aman, kondisi yang terlindungi secara fisik, sosial, spiritual, finansial, politik, emosi, pekerjaan, psikologis atau berbagai akibat dari sebuah kegagalan, kerusakan, kecelakaan, atau berbagai keadaan yang tidak diinginkan.(http://.en.wikipedia.org/wiki/safety). Menurut Craven:2000 keamanan tidak hanya mencegah rasa sakit dan cedera tetapi juga membuat individu merasa aman dalam aktifitasnya. Keamanan dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan umum.



Keamanan fisik (Biologic safety) merupakan keadaan fisik yang aman terbebas dari ancaman kecelakaan dan cedera (injury) baik secara mekanis, thermis, elektris maupun bakteriologis. Kebutuhan keamanan fisik merupakan kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam kesehatan fisik, yang pada pembahasan ini akan difokuskan pada providing for safety atau memberikan lingkungan yang aman.

B. KARAKTERISTIK KEAMANAN

1. Pervasiveness (insidensi) Keamanan bersifat pervasive artinya luas mempengaruhi semua hal. Artinya klien membutuhkan keamanan pada seluruh aktifitasnya seperti makan, bernafas, tidur, kerja, dan bermain.

2. Perception (persepsi) Persepsi seseorang tentang keamanan dan bahaya mempengaruhi aplikasi keamanan dalam aktifitas sehari-harinya. Tindakan penjagaan keamanan dapat efektif jika individu mengerti dan menerima bahaya secara akurat.

3. Management (pengaturan) Ketika individu mengenali bahaya pada lingkungan klien akan melakukan tindakan pencegahan agar bahaya tidak terjadi dan itulah praktek keamanan. Pencegahan adalah karakteristik mayor dari keamanan.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAMANAN

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melindungi diri dari bahaya kecelakaan yaitu usia, gaya hidup, status mobilisasi, gangguan sensori persepsi, tingkat kesadaran, status emosional, kemampuan komunikasi, pengetahuan pencegahan kecelakaan, dan faktor lingkungan. Perawat perlu mengkaji faktor-faktor tersebut saat merencanakan perawatan atau mengajarkan klien cara untuk melindungi diri sendiri.



1. Usia



Individu belajar untuk melindungi dirinya dari berbagai bahaya melalui pengetahuan dan pengkajian akurat tentang lingkungan. Perawat perlu untuk mempelajari bahaya-bahaya yang mungkin mengancam individu sesuai usia dan tahap tumbuh kembangnya sekaligus tindakan pencegahannya.



2. Gaya Hidup



Faktor gaya hidup yang menempatkan klien dalam resiko bahaya diantaranya lingkungan kerja yang tidak aman, tinggal didaerah dengan tingkat kejahatan tinggi, ketidakcukupan dana untuk membeli perlengkapan keamanan,adanya akses dengan obat-obatan atau zat aditif berbahaya.



3. Status mobilisasi



Klien dengan kerusakan mobilitas akibat paralisis, kelemahan otot, gangguan keseimbangan/koordinasi memiliki resiko untuk terjadinya cedera.



4. Gangguan sensori persepsi



Sensori persepsi yang akurat terhadap stimulus lingkungan sangat penting bagi keamanan seseorang. Klien dengan gangguan persepsi rasa, dengar, raba, cium, dan lihat, memiliki resiko tinggi untuk cedera.



5. Tingkat kesadaran



Kesadaran adalah kemampuan untuk menerima stimulus lingkungan, reaksi tubuh, dan berespon tepat melalui proses berfikir dan tindakan. Klien yang mengalami gangguan kesadaran diantaranya klien yang kurang tidur, klien tidak sadar atau setengah sadar, klien disorientasi, klien yang menerima obat-obatan tertentu seperti narkotik, sedatif, dan hipnotik.



6. Status emosional



Status emosi yang ekstrim dapat mengganggu kemampuan klien menerima bahaya lingkungan. Contohnya situasi penuh stres dapat menurunkan konsentrasi dan menurunkan kepekaan pada simulus eksternal. Klien dengan depresi cenderung lambat berfikir dan bereaksi terhadap stimulus lingkungan.



7. Kemampuan komunikasi



Klien dengan penurunan kemampuan untuk menerima dan mengemukakan informasi juga beresiko untuk cedera. Klien afasia, klien dengan keterbatasan bahasa, dan klien yang buta huruf, atau tidak bisa mengartikan simbol-simbol tanda bahaya.



8. Pengetahuan pencegahan kecelakaan



Informasi adalah hal yang sangat penting dalam penjagaan keamanan. Klien yang berada dalam lingkungan asing sangat membutuhkan informasi keamanan yang khusus. Setiap individu perlu mengetahui cara-cara yang dapat mencegah terjadinya cedera.



9. Faktor lingkungan



Lingkungan dengan perlindungan yang minimal dapat beresiko menjadi penyebab cedera baik di rumah, tempat kerja, dan jalanan.




D. Jenis-Jenis Bahaya yang Mengancam Keamanan Fisik



Beberapa bahaya yang sering mengancam klien baik yang berada di tempat pelayanan kesehatan, rumah, maupun komunitas diantaranya:



1. Api /kebakaran



Api adalah bahaya umum baik di rumah maupun rumah sakit. Penyebab kebakaran yang paling sering adalah rokok dan hubungan pendek arus listrik. Kebakaran dapat terjadi jika terdapat tiga elemen sebagai berikut: panas yang cukup, bahanbahan yang mudah terbakar, dan oksigen yang cukup.



2. Luka bakar (Scalds and burns)



Scald adalah luka bakar yang diakibatkan oleh cairan atau uap panas, seperti uap air panas. Burn adalah luka bakar diakibatkan terpapar oleh panas tinggi, bahan kimia, listrik, atau agen radioaktif. Klien dirumah sakit yang berisiko terhadap luka bakar adalah klien yang mengalami penurunan sensasi suhu dipermukaan kulit.



3. Jatuh



Terjatuh bisa terjadi pada siapa saja terutama bayi dan lansia. Jatuh dapat terjadi akibat lantai licin dan berair, alat-alat yang berantakkan, lingkungan dengan pencahayaan yang kurang.



4. Keracunan



Racun adalah semua zat yang dapat mencederai atau membunuh melalui aktivitas kimianya jika dihisap, disuntikkan, digunakan, atau diserap dalam jumlah yang cukup sedikit. Penyebab utama keracunan pada anak-anak adalah penyimpanan bahan berbahaya atau beracun yang sembarangan, pada remaja adalah gigitan serangga dan ular atau upaya bunuh diri. Pada lansia biasanya akibat salah makan obat (karena penurunan pengelihatan) atau akibat overdosis obat (karena penurunan daya ingat).



5. Sengatan listrik



Sengatan listrik dan hubungan arus pendek adalah bahaya yang harus diwaspadai oleh perawat. Perlengkapan listrik yang tidak baik dapat menyebabkan sengatan listrik bahkan kebakaran, contoh: percikan listrik didekat gas anestesi atau oksigen konsentrasi tinggi. Salah satu pencegahannya adalah dengan menggunakan alat listrik yang grounded yaitu bersifat mentransmisi aliran listrik dari suatu objek langsung kepermukaan tanah.



6. Suara bising



Suara bising adalah bahaya yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi pendengaran, tergantung dari: tingkat kebisingan, frekuensi terpapar kebisingan, dan lamanya terpapar kebisingan serta kerentanan individu. Suara diatas 120 desibel dapat menyebabkan nyeri dan gangguan pendengaran walaupun klien hanya terpapar sebentar. Terpapar suara 85-95 desibel untuk beberapa jam per hari dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang progressive. Suara bising dibawah 85 desibel biasanya tidak mengganggu pendengaran.



7. Radiasi



Cedera radiasi dapat terjadi akibat terpapar zat radioaktif yang berlebihan atau pengobatan melalui radiasi yang merusak sel lain. Zat radioaktif digunakan dalam prosedur diagnoostik seperti radiografi, fluoroscopy, dan pengobatan nuklir. Contoh isotop yang sering digunakan adalah kalsium, iodine, fosfor.



8. Suffocation (asfiksia) atau Choking (tersedak)



Tersedak (suffocation atau asphyxiation) adalah keadaan kekurangan oksigen akibat gangguan dalam bernafas. Suffocation bisa terjadi jika sumber udara terhambat/terhenti contoh pada klien tenggelam atau kepalanya terbungkus plastik. Suffocation juga bisa disebabkan oleh adanya benda asing di saluran nafas atas yang menghalangi udara masuk ke paru-paru. Jika klien tidak segera ditolong bisa terjadi henti nafas dan henti jantung serta kematian.



9. Lain-lain



kecelakaan bisa juga disebabkan oleh alat-alat medis yang tidak berfungsi dengan baik (equipment-related accidents) dan kesalahan prosedur yang tidak disengaja (procedure-related equipment).





E. PENGKAJIAN



Pengkajian klien dengan resiko injuri meliputi: pengkajian resiko (Risk assessment tools) dan adanya bahaya dilingkungan klien (home hazards appraisal). Pengkajian Resiko



a) Jatuh



– Usia klien lebih dari 65 tahun


– Riwayat jatuh di rumah atau RS


– Mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran


– Kesulitan berjalan atau gangguan mobilitas


– Menggunakan alat bantu (tongkat, kursi roda, dll)


– Penurunan status mental (disorientasi, penurunan daya ingat)


– Mendapatkan obat tertentu (sedatif, hypnotik, tranquilizers, analgesics, diuretics, or laxatives)



b) Riwayat kecelakaan



Beberapa orang memiliki kecenderungan mengalami kecelakaan berulang, oleh karena itu riwayat sebelumnya perlu dikaji untuk memprediksi kemungkinan kecelakaan itu terulang kembali



c) Keracunan



Beberapa anak dan orang tua sangat beresiko tinggi terhadap keracunan. Pengkajian meliputi seluruh aspek pengetahuan keluarga tentang resiko bahaya keracunan dan upaya pencegahannya.



d) Kebakaran



Beberapa penyebab kebakaran dirumah perlu ditanyakan tentang sejauh mana klien mengantisipasi resiko terjadi kebakaran, termasuk pengetahuan klien dan keluarga tentang upaya proteksi dari bahaya kecelakaan akibat api.



Pengkajian Bahaya



Meliputi mengkaji keadaan: lantai, peralatan rumah tangga, kamar mandi, dapur, kamar tidur, pelindung kebakaran, zat-zat berbahaya, listrik, dll apakah dalam keadaan aman atau dapat mengakibatkan kecelakaan.



Pengkajian Keamanan (spesifik pada lansia di rumah)



Gangguan keamanan berupa jatuh di rumah pada lansia memiliki insidensi yang cukup tinggi, banyak diantara lansia tersebut yang akhirnya cedera berat bahkan meninggal. Bahaya yang menyebabkan jatuh cenderung mudah dilihat tetapi sulit untuk diperbaiki, oleh karena itu diperlukan pengkajian yang spesifik tentang keadaan rumah yang terstuktur. Contoh pengkajian checklist pencegahan jatuh pada lansia yang dikeluarkan oleh Departemen kesehatan dan pelayanan masyarakat Amerika.



F. DIAGNOSA



Diagnosa umum sering muncul pada kasus keamanan fisik menurut NANDA adalah



Resiko tinggi terjadinya cedera (High risk for injury). Seorang klien dikatakan mengalami masalah keperawatan resiko tinggi terjadinya cidera bila kondisi lingkungan dan adaptasi atau pertahanan seseorang beresiko menimbulkan cedera.



Diagnosa umum tersebut memiliki tujuh subkatagori yang memungkinkan perawat menjelaskan cedera secara lebih spesifik dan atau untuk memberikan intervensi yang tepat (Wilkinson, 2000):



Resiko terjadinya keracunan: adanya resiko terjadinya kecelakaan akivat terpapar, atau tertelannya obat atau zat berbahaya dalam dosis yang dapat menyebabkan keracunan.



Resiko terjadinya sufokasi: adanya resiko kecelakaan yang menyebabkan tidak adekuatnya udara untuk proses bernafas.



Resiko terjadinya trauma: adanya resiko yang menyebabkan cedera pada jaringan (ms. Luka, luka bakar, atau fraktur).



Respon alergi lateks: respon alergi terhadap produk yang terbuat dari lateks.



Resiko respon alergi lateks: kondisi beresiko terhadap respon alergi terhadap produk yang terbuat dari lateks.



Resiko terjadinya aspirasi: klien beresiko akan masuknya sekresi gastrointestinal, sekresi orofaringeal, benda padat atau cairan kedalam saluran pernafasan.



Resiko terjadinya sindrom disuse (gejala yang tidak diinginkan): klien beresiko terhadap kerusakan sistem tubuh akibat inaktifitas sistem muskuloskeletal yang direncanakan atau tidak dapat dihindari.



Contoh kasus:



Tn. ED, 70 tahun tinggal seorang diri dirumahnya. Klien memiliki riwayat glaukoma sehingga klien harus menggunakan obat tetes mata dua kali sehari. Klien mengatakan sulit memfokuskan penglihatan, kehilangan penglihatan sebelah, dan tidak bisa melihat dalam gelap.



Diagnosa yang muncul adalah:



Resiko tinggi cedera: jatuh berhubungan dengan penurunan sensori (tidak mampu melihat)



G. PERENCANAAN



Secara umum rencana asuhan keperawatan harus mencakup dua aspek yaitu: Pendidikan kesehatan tentang tindakan pencegahan dan memodifikasi lingkungan agar lebih aman.

Continue reading KEBUTUHAN KEAMANAN FISIK (BIOLOGIC SAFETY) PADA KLIEN DI TEMPAT PELAYANAN KESEHATAN, RUMAH, DAN KOMUNITAS DENGAN PENDEKATAN PROSES KEPERAWATAN

Bolehkah kita cemburu dengan Perawat Philipina ???

Ada sekitar 15.000 perawat Philipina akan masuk bekerja di Amerika Serikat di tahun 2006 (Kuwait sedang cari 10 Indo nurses for NCLEX nihh … susahnya setengah ampun). bahkan mereka masuk bekerja di Negara-negara seperti Libya, Bahrain, Israel, Arika Selatan, Mesir, dsb. (Mungkin tidak ada Negara di dunia yang tidak ada Perawat Philipinanya yah???)



Remitance mereka mencapai 14% dari APBN Negara-nya mencapai U$ 25 billion pertahun. Waw ….. Bahkan anggota DPRnya sampai turun tangan menangani penempatan perawat, Presiden membuat Mahkamah Keperawatan setingkat Lembaga Tinggi Negara, dsb, dsbnya.



15,000 Pinoy nurses sought US jobs in 2006



More than 15,000 new Filipino nurses sought employment in the United States last year, former senator and labor leader Ernesto Herrera disclosed over the weekend. Herrera said a total of 15,171 Filipinos took the US National Council Licensure Examination (NCLEX) for nurses for the first time (excluding repeaters) from January to December 2006.



This represents an increase of 5,990 or 65 percent compared to the 9,181 Filipinos that took the NCLEX for the first time in the whole of 2005, according to Herrera, secretary-general of the Trade Union Congress of the Philippines (TUCP). The former senator said the 2006 NCLEX statistics reaffirmed the Philippines’ position as the foremost supplier of foreign nurses in the US.


He said the Philippines easily topped the five countries with the highest number of first-time NCLEX examinees in 2006. India came second, with 4,395 examinees; followed by South Korea, 2,145; Canada, 943; and Cuba, 537.



Passing the NCLEX is usually the final step in the nurse licensure process in the US. Thus, the number of people taking the examination is a good indicator of how many new US-educated as well as foreign-trained nurses are trying to enter the profession in the US, according to the US National Council of State Boards of Nursing.



The TUCP has been pushing the deployment of surplus nurses and other highly skilled workers to lucrative job markets abroad.“Our position is, if we must boldly pursue the export of services, we might as well purposely encourage the deployment of highly skilled laborers such as nurses,” said Herrera, former chairman of the Senate labor and employment committee.



“Nursing skills are not readily replaceable. This is why we seldom come across cases of employers taking advantage of, or abusing nurses. In fact, Filipino nurses overseas are pampered by their employers,” he said.He added: “We must consciously discourage the overseas deployment of relatively unskilled workers such as domestic helpers. Their skills are easily replaceable. This is why they are undeniably far more susceptible to employer abuse.”



Herrera earlier rejected proposed new legislation that seeks to require nurses who obtained government-subsidized schooling to render two years of compulsory local service before they can leave for overseas employment.

Continue reading Bolehkah kita cemburu dengan Perawat Philipina ???

MOTIVASI

Oleh : Mustikasari, SKp., MARS
Blog : .:. Phsyciatric Nursing Weblog .:.


Pengertian

Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu. (Stoner& Freeman, 1995:134) Motivasi menurut Ngalim Purwanto (2000:60) adalah bahwa motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi adalah perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan atau menjalankan kekuasaan terutama dalam berperilaku (Sbortell & Kaluzny, 1994:59)

Dari berbagai macam definisi motivasi, Stanford (1970), ada tiga point penting dalam pengertian motivasi yaitu hubungan antara kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan muncul karena adanya sesuatu yang kurang dirasakan oleh seseorang, baik fisologis maupun psikologis. Dorongan merupakan arahan untuk memenuhi kebituhan tadi, sedangkan tujuan adalah akhir dari satu siklus motivasi (Luthans, 1988:184).

Motivasi intrinsik kerja perawat adalah respons perawat yang berhubungan dengan kemampuan perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan membuat kehidupan pasien menjadi berbeda. (Fletcher, 2001:9). Menurut Herzberg bahwa faktor intrinsik kerja meliputi: otonomi, status profesional, tuntutan tugas, hubungan interpersonal, interaksi dan gaji/upah (Stamps, 1997:37). Berikut ini penjabaran tentang faktor intrinsik kerja:

1. Otonomi
Otonomi adalah kebebasan untuk memilih tindakan tanpa kendali dari luar. Otonomi merupakan salah satu komponen yang penting dari disiplin profesional yaitu penetapan mekanisme untuk pengaturan sendiri dan penyelenggaraan mandiri (Susilowati, 2002). Definisi lain mengatakan bahwa autonomy merupakan kebebasan seseorang dalam melakukan tindakan yang akan dilakukan dan kemampuan dalam mengatasi masalah yang ada. Dalam dunia pekerjaan autonomy diartikan sebagai kondisi pekerjaan seseorang yang dapat membantu meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja (Gindaba, 1997).

Penelitian yang dilakukan Eisenstat dan Afelner pada 168 pekerja, bahwa kebebasan dalam bekerja dan kontrol terhadap pekerjaan yang baik membuat seseorang mempunyai perencanaan ke depan dan kepuasan kerja jadi tambah meningkat.

2. Status profesional
Status profesional adalah perasaan perawat secara umum dalam meningkatkan keterampilan profesional, kegunaan pekerjaan, status pekerjaan dan harga diri terhadap profesi keperawatan (Ghale, 1998). Menurut Maslow dan Herzberg mengatakan bahwa meningkatnya harga diri atau status individu akan meningkatkan kebutuhan psikologis sehingga kepuasan menjadi meningkat.

3. Tuntutan tugas
Menurut Slavitt tuntutan tugas adalah tugas yang harus dilakukan sesuai dengan pekerjaan dan kemampuan yang merupakan tanggung jawab dan kewajibannya atau segala macam tugas atau kegiatan yang harus diselesaikan sebagai bagian reguler dari pekerjaan (Iskandar, 2001).

Timulty mengatakan bahwa rendahnya kemampuan dalam mengelola tugas yang diberikan akan berdampak pada ketidakpuasan. Penyebabnya karena tidak mampu mengatur waktu dengan baik sehingga waktu untuk ke pasien berkurang dan kurangnya waktu untuk berdiskusi tentang permasalahan manajemen dengan manajer perawat (Fletcher, 2001).

4. Hubungan interpersonal
Hubungan interpersonal adalah kebutuhan akan kerjasama secara timbal balik antara perawat dengan atasan, teman sekerja, tim kesehatan lain dan pasien. Makin baik hubungan interpersonal seseorang maka makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya dan makin cermat mempersepsikan tentang orang lain dan diri sendiri, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung antara komunikan (Rakhmat, 2000:120).

Menurut Arnold P. Goldstein (1975), ada 3 (tiga) prinsip metode peningkatan hubungan yaitu: makin baik hubungan interpersonal maka: a) makin terbuka seseorang mengungkapkan perasaannya, b) makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta penolongnya (perawat), dan c) makin cenderung ia mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasihat yang diberikan penolongnya.

5. Interaksi
Interaksi adalah kesempatan dan kemampuan individu dalam melakukan percakapan baik formal maupun informal selama bekerja. Interaksi diperlukan untuk selalu melakukan tindakan dengan benar. Interaksi yang dilakukan dengan benar dapat: a) menurunkan konflik antara tenaga kesehatan, b) meningkatkan partisipasi, dan c) meningkatkan ketrampilan.

6. Gaji/Upah
Upah adalah pembayaran dalam bentuk barang atau uang dan keuntungan-keuntungan yang diterima oleh individu karena telah bekerja sesuai dengan pekerjaannya. Upah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan seseorang



Daftar Pustaka

1. Fletcher, C.E. (2001). Hospital RN’s job satisfactions and dissatisfactions. Journal of nursing administration, 2001, 31 (6), 324-331.
2. Gillies, D.A. (1994). Nursing management: a systems approach. Third edition. Philadelphia: W.B. Saunders Company.
3. Rakhmat, J. (2000). Psikologi komunikasi. Cetakan kelimabelas. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
4. Stamps, P.L. (1997). Nurses and work satisfaction: an index for measurement. Second edition. Chicago: Health Administration Press.