PROSPEK LULUSAN PERAWAT (DIPLOMA III KEPERAWATAN & NERS) DI INDONESIA

Oleh: Nursalam*
Artikel pernah diterbitkan di Tabloid Lingua FK Unair
Profesi perawat di Indonesia pada 10 tahun terakhir ini menjadi profesi yang menarik untuk disimak. Fenomena pertama adalah semakin terbukanya kesempatan dan tawaran bekerja di Luar negeri (negara Timur Tengah dan Eropa). Fenomena Kedua adalah semakin meningkatnya animo masyarakat menyekolahkan anaknya di Akademi keperawatan (AKPER). Dan fenomena yang ketiga adalah semakin menjamurnya Pendidikan Keperawatan (setingkat Diploma III) di Indonesia, di Jawa Timur saja diperkirakan sudah lebih dari 50 AKPER. Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana prospek lulusannya, apakah mereka memang merupakan lulusan yang berkualitas dan siap bersaing untuk bekerja di Luar negeri. Hal ini didasarkan sangat sedikit sekali kesempatan untuk menjadi PNS dan keterbatasan Institusi untuk menerima para lulusan Perawat tersebut. Memang kalau kita membahas siapa yang salah, tidak akan pernah ada habisnya. Hal utama yang harus dipikirkan adalah bagaimana memberikan solusi terbaik, agar para lulusan perawat tersebut mempunyai prospek yang jelas di hari esok.
Masyarakat terus-menerus berkembang atau mengalami perubahan. Dengan terjadinya perubahan atau pergeseran dari berbagai faktor yang mempengaruhi keperawatan, maka akan terjadi perubahan atau pergeseran dalam keperawatan, baik perubahan dalam pelayanan / asuhan keperawatan, perkembangan IPTEKKEP, maupun perubahan dalam masyarakat keperawatan, baik sebagai masyarakat ilmuwan maupun sebagai masyarakat profesional serta prospek perawat di masa depan dalam mengembangkan karier dan memperoleh kesempatan untuk bekerja. Continue reading PROSPEK LULUSAN PERAWAT (DIPLOMA III KEPERAWATAN & NERS) DI INDONESIA

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA, ANTARA HARAPAN dan KENYATAAN

Oleh: Ferry Efendi
Siapapun sepakat bahwa remaja merupakan generasi penerus bangsa dan pemegang estafet kepemimpinan di masa mendatang. Di tangan remaja, masa depan bangsa ini ditentukan. Salah satu syarat mutlak bagi remaja agar dapat berkreasi dan berinovasi dalam pembangunan adalah kondisi sehat yang salah satunya ditentukan pula oleh kesehatan reproduksinya. Sudahkah hak-hak kesehatan reproduksi remaja terpenuhi di negara ini?
Berdasarkan data profil kesehatan Indonesia tahun 2000, jumlah dan persentase penduduk Indonesia golongan usia 10-24 tahun adalah 64 juta. Sedangkan khusus untuk remaja usia 10-19 tahun (definisi WHO untuk adolescence) berjumlah 44 juta atau 21 persen. Namun patut disayangkan, aset potensial ini tidak menjadi prioritas indikator kesehatan yang penting bagi pemerintah. Hal ini dapat dicermati dari minimnya program pemerintah yang memiliki daya penegakan terukur dalam mencapai target kuantitas dan kualitas kesehatan reproduksi remaja.
Masalah kesehatan reproduksi remaja dari tahun ke tahun semakin mengkhawatirkan. Permasalahan kesehatan reproduksi remaja tersebut meliputi kehamilan tidak diinginkan, aborsi, perilaku seks bebas serta penyakit menular seksual dan HIV/AIDS. Tingginya angka kehamilan yang tidak diinginkan memicu terjadinya aborsi yang terselubung dan tidak aman. Survei demi survei menunjukkan perilaku seks bebas tidak hanya terjadi di perkotaan tetapi sudah merambah pedesaan. Permasalahan kesehatan reproduksi remaja bagaikan fenomena gunung es, hanya puncaknya saja yang terlihat sedangkan dasarnya menunggu momen yang tepat untuk muncul ke permukaan. Pada kenyataannya dengan jumlah remaja yang sangat banyak, sangat sedikit pelayanan yang tersedia, terpisah-pisah atau bahkan tidak ada sama sekali. Continue reading KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA, ANTARA HARAPAN dan KENYATAAN