EUTHANASIA Vs HIPPOCRATES

Kasus Ny. Agian Isna Nauli yang sempat mengagetkan banyak pihak masih mewarnai beberapa surat kabar. Pasalnya, Hasan Kesuma, sang suami meminta istrinya disuntik mati. Disini penulis tergelitik untuk mengupasnya dari segi pandangan medis.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian canggih, ditambah dengan perubahan sosial kemasyarakatan yang begitu cepat, telah menancapkan pengaruh yang luar biasa bagi berbagai disiplin ilmu. Tidak terkecuali kedokteran. Berbagai kasus, isu dan masalah baru muncul. Menurut Franz Magnis Suseno tantangan-tantangan etika kedokteran seringkali bersifat “kontroversial” dan mau tidak mau kita dipaksa menyadari keberadaan masalah tersebut. Ia menyatakan beberapa tantangan etika kedokteran seperti penetapan norma-norma etika kedokteran, otonomi pasien, janin manusia dan euthanasia.
Berbicara mengenai kedokteran tentunya kita tidak akan terlepas dari Hippocrates, Bapak Pengobatan. Tokoh yang dilahirkan di Yunani 460 SM ini meninggalkan warisan bagi para pengikutnya yang kita kenal dengan nama sumpah dokter. Sumpah dokter yang ada sekarang ini merupakan perwujudan dari sumpah Hippocrates (Hippocrates Oath). Salah satu lafal yang diyakini oleh Hippocrates adalah “Saya akan menaati sistem prosedur kesehatan yang sesuai dengan kemampuan dan penilaian saya, saya akan memperhatikan kepentingan pasien saya, dan tidak akan melakukan hal-hal yang membahayakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun bila diminta, atau tidak akan memberikan saran untuk itu; dalam bentuk apapun”.
Jelas terlihat dari sumpah Hippocrates di atas, segala perbuatan yang mengakibatkan cedera, cacat ataupun kematian sangat dilarang dan bertentangan dengan jiwa kedokteran itu sendiri. Tujuan dari pengobatan yang diberikan adalah meningkatkan serta memperpanjang kualitas hidup pasien, baik pasien dengan penyakit akut, kronis maupun pasien terminal. Dalam buku karya Wesley Smith, The Culture of death-The Assault of Medical Ethics in America, Smith menuduh bahwa kelompok The Right to Die Society of Canada telah melanggar undang-undang yang berlaku di Kanada tentang euthanasia. Kelompok ini menjual kantung plastik yang digunakan untuk mengakhiri hidup. Kantung tas yang dijual seharga US$32 dengan buku pengantar bunuh diri seharga US$10 telah mengundang polemik di negara tersebut. Peristiwa ini menyadarkan kita bahwa masalah euthanasia merupakan masalah yang kompleks dan selalu mengundang perdebatan. Tidak hanya di negara kita tetapi juga di negara-negara maju yang telah melegalkan praktik tersebut. Continue reading EUTHANASIA Vs HIPPOCRATES

BUSUNG LAPAR DAN INDONESIA SEHAT 2010

By: Ferry Efendi
Kejadian tragis dan memilukan terjadi lagi di negara kita. Di tengah gencar-gencarnya Depkes mengkampanyekan visi dan misi Indonesia Sehat 2010, kita dikejutkan dengan kejadian busung lapar. Penyakit yang memiliki istilah medis marasmus kwashiorkor ini tiba-tiba muncul di negara yang dikenal sebagai lumbung beras. Ironis memang, karena busung lapar merupakan fenomena kekurangan protein kronis yang setidaknya dapat diketahui dan dicegah semenjak dini. Akankah Indonesia Raya akan mengalami hal yang sama dengan negara-negara di belahan benua Afrika?
Kejadian busung lapar merupakan fakta yang ada di tengah masyarakat yaitu kemiskinan yang berakibat terbatasnya akses ke pelayanan kesehatan. Kemiskinan merupakan masalah klasik yang dihadapi bangsa kita. Sejak era Pak Karno hingga era Pak SBY ini kita tetap terbelenggu oleh rantai kemiskinan. Banyaknya warga yang miskin merupakan masalah besar bagi pemerintah sekarang walaupun kemiskinan itu sendiri seringkali kehadirannya tidak disadari sebagai masalah oleh manusia yang bersangkutan. Menurut Robert Chambers perangkap kemiskinan terdiri dari lima unsur yaitu kemiskinan itu sendiri, kelemahan fisk, keterasingan atau kadar isolasi, kerentanan dan ketidakberdayaan. Orang yang miskin tidak akan mampu memenuhi kebutuhan 4 sehat 5 sempurna, hal ini akan mengakibatkan kelemahan fisik, gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berakhir pada lost generation. Continue reading BUSUNG LAPAR DAN INDONESIA SEHAT 2010

Seharusnya Dokter Gigi itu………

Kamis sore penulis datang berobat ke dokter gigi. Setelah mengetuk pintu ruang praktek, dokter tersebut mempersilahkan masuk penulis. “Ada keluhan apa”? itulah kalimat yang pertama kali terlontar dari dokter tersebut, tanpa sedikitpun senyum sang dokter melanjutkan anamnesa. Adegan berikutnya bisa ditebak, dengan mengandalkan kehebatan dan canggihnya peralatan, sang dokter mulai beraksi dengan dibantu perawat gigi disampingnya. Selesai tindakan si dokter menuliskan resep dengan meninggalkan sedikit pesan dan lagi-lagi tanpa senyum yang menghiasi bibirnya.
Sebagai orang kesehatan tentunya penulis memaklumi sikap dan tindakan dokter tersebut. Beliau mungkin sedang diburu waktu karena pasiennya berjubel diluar atau dokter tersebut harus praktek ke tempat lain. Tetapi permasalahannya adalah orang yang sakit bukan hanya sakit fisiknya tetapi bagian tubuh yang lainnya juga merasakan sakit. Sebagai seorang dokter tentunya para dokter gigi dituntut supaya mampu menerapkan profesionalisme dan komunikasi terapeutik pada pasiennya. Selain itu pendekatan yang digunakan bukanlah pendekatan per sistem lagi melainkan pendekatan holistik atau menyeluruh. Continue reading Seharusnya Dokter Gigi itu………