Managing Characters in Nursing Education

by Syaifoel Hardy
Beberapa bulan lalu, saya menerima email dari seseorang yang tidak saya kenal. Besar kemungkinan dia seorang mahasiswa, terlepas apakah dia seorang mahasiswa murni atau seorang perawat yang sambil bekerja lantas meneruskan pendidikannya.

Apa yang membuat saya agak ‘heran’ dengan emailnya adalah, seperti masuk rumah seseorang. Tanpa mengetuk pintu dia langsung nyelonong. Sebagai ‘pemilik rumah’ saya tentu saja kaget. Lantaran memasuki wilayah privasi. Yang dia lakukan adalah, dia langsung to the pont, meminta saya untuk memberikan artikel yang sesuai dengan penelitiannya.

Mengetahui maksudnya dalam email, sebenarnya saya tidak keberatan. Yang menjadi concern saya, dia mestinya punya ‘etika’ bagaimana sikap kita, secara general, sebelum masuk rumah orang lain. Dia harus ketuk pintu atau tekan bel atau mengucap assalamu’alaikum. Kemudian perkenalkan diri, sampaikan latar belakang serta tujuan mengapa anda memasuki rumah kami.

Kejadian di atas, email ethics, adalah satu contoh yang banyak kita temui, bukan hanya pada kalangan nursing students saja. Banyak kesempatan dalam pelayanan kesehatan, perawat juga rata-rata kurang element awareness nya di bidang customer services ini. Etika telepon saja kurang paham. Manfaat senyum pada customer juga tidak paham. Demikian pula teknik komunikasi sampai dengan etika berpakaian. Semua ini merupakan bagian dari pembinaan karaktek yang mestinya terintegrasi dalam pendidikan keperawatan kita.

Curriculum

Kurikulum pendidikan keperawatn kita sebenarnya sudah menyentuh aspek etika keperawatan. Hanya saja, masih terlalu umum sifatnya. Apa yang tertuang dalam Sillaby Nursing Ethics biasanya menyangkut aspek legal individual nurse serta accountability nya terhadap praktik keperawatan. Tapi kurang menyentuh esensi sikap perawat itu sendiri.

Sebagi contoh, dalam Silabi tidak mungkin tercantum bahwa faktor ‘senyuman’ seorang perawat memiliki peranan yang besar dalam pelayanan kesehatan. Silabi juga tidak menyebutkan etika email, etika berkomunikasi lewat telepon, etika menyapa pasien serta komunikasi lain. Ringkasnya, silabi ini hanya menyentuh hal-hal yang besar. Sehingga, tidaklah salah memang apabila perawat waktu menyambut pasien pertama kali datang, dengan tanpa senyuman. Silabi juga tidak akan menyalahkan bila perawat menulis email tanpa ada pendahuluan atau salam, meskipun akibat dari sikap perawat ini bisa berakibat pada reputasi organisasi di mana dia bekerja menjadi taruhannya. Continue reading Managing Characters in Nursing Education

Kualitas Nursing di Indonesia: Penggerogotan Sistematis Profesi

Pada tanggal 2 Juli 2008, Corporate Nurse Qatar Petroleum (QP) mengedarkan informasi lewat email ke seluruh Chief Nurses QP, yang bunyinya: “I am thinking of requesting a recruitment drive from HR. Please could you let me know which nationality of nurses you require!” Pada hari yang sama, Chief Nurse dari Messaieed, menjawab: Hi Debbie – no immediate req from MMC – however (once unfreeze of new positions) Ambulance Nurses – Filipino or Indonesia; and Nurses – Indian, Filipino, or Indonesian.

Kata ‘Indonesian’ di atas, mengacu kepada nurses yang berasal dari Indonesia. Indonesian nurses diakui atau tidak, sudah memberikan image positif di QP, salah satu perusahaan penghasil minyak dan gas bumi terbesar di dunia. Indonesian nurses, mewakili negara Indonesia, telah sanggup mengukir nama harum bangsa, sehingga diminati, dicari dan dibutuhkan partisipasi aktifnya untuk turut membangun negara lain, dalam hal ini Qatar.

Apakah dengan adanya permintaan dan rekomendasi sebagaimana tersebut di atas, lantas otomatis akan berarti bahwa Indonesian nurses ini secara kualitas di ‘atas’ nurses dari negara-negara lain? Jawabannya: Tunggu dulu!

Hanya karena adanya permintaan tersebut, kita tidak bisa secara gegabah mengambil kesimpulan bahwa nurses kita lebih baik dari Malaysia, Singapore, Thailand, Yordania, Romania, USA serta UK yang tidak disebutkan sama sekali. Meski kita boleh berbangga diri, namun itu belum cukup untuk menjawab pertanyaan di atas. Sekedar informasi saja, pengirim email (Corporate Nurse) dan yang menjawab (Chief Nurse), kedua-duanya berasal dari dan berkebangsaan Inggris! Jadi, demand and recommendation itu muncul bukan karena KKN!

Saya pernah berdiskusi dengan salah seorang pengusaha Jeans di Dubai, dari Jakarta yang mengekspor produknya ke kawasan Timur Tengah dan Afrika. Ketika ditanya apakah kualitas barang-barang ekspor ini sama dengan yang dipasarkan di Indonesia? Jawabannya: tidak! Mulai dari bahan mentah, pengolahan hingga pengepakannya. Itu berarti bahwa, barang-barang yang diekspor ini, memiliki nilai dan kandungan mutu yang berbeda dengan yang beredar di dalam negeri. Continue reading Kualitas Nursing di Indonesia: Penggerogotan Sistematis Profesi

Don’t Say ‘YES’, If It Hurts You

Sudah menjadi tradisi Timur, keterus-terangan kadang dianggap tabu. Sejak masih usia anak-anak, kita dididik untuk mesti patuh. Kepada orangtua atau siapapun, yang dianggap lebih tua, meskipun perintahnya tidak selalu benar. Dalam jangka panjang, ‘mind-set’ seperti ini tertanam kuat di dalam karaktek seseorang. Akibatnya, bisa karatan. Untuk mengubahnya, bukan perkara mudah.

Anak-anak biasa disuruh beli rokok, padahal di sekolah diajarkan bahwa rokok itu tidak sehat. Merokok di mana-mana di dalam rumah tidak jadi persoalan, seperti halnya kita minum teh atau ketela goreng. Di ruang tamu, kamar tidur, halaman rumah, hingga kamar mandi, penuh puntung rokok. Apa lagi yang namanya di kendaraan maupun tempat umum lainnya. Tidak heran jika Indonesia mendapat julukan ‘The biggest ashtray in the world’ (Asbak terbesar di dunia).

Ironisnya, dari kebiasaan ini, tidak ada atau jarang sekali yang mampu melarang. Rasanya berat sekali untuk berani berkata: ‘Tidak’, atau: “Jangan merokok di sini!”

Buang sampah sembarangan juga tidak ada yang peduli. Begitu juga dengan yang namanya budaya antri, siapa yang berani menegur?

Ketika saya ngantri di sebuah Money Changer di Doha beberapa bulan lalu, seorang warga kita, nyelonong aja ke depan, tanpa permisi, mendahului giliran yang mestinya saya.

Ah! Betapa sulitnya!

Meski tidak semuanya, orang-orang Indonesia, lantaran budaya dan tradisi seperti ini, ditambah masa penjajahan yang begitu panjang, diperberat dengan masa Orde Baru, terbelenggu kebebasan ekspresinya. Mengemukakan pendapat, hanya santer di forum-forum televisi dan diskusi akademik. Orang sepertinya harus berpikir seribu kali, apabila mau menyampaikan ketidak-setujuannya, atau ide yang berseberangan.

Tidak heran, jika kita akhirnya jadi ‘makanan empuk’ negara-negara adi daya. Kita jadi sasaran segar mereka. Mulai yang namanya didekte, hingga dijajah. Indonesia merupakan lahan subur mereka dalam berbagai kebijakan, politik, ekonomi, pertahanan keamanan, tidak terkecuali di bidang kesehatan. Hanya karena sulit jika berkata ‘Tidak!’ atau ‘No!’ Continue reading Don’t Say ‘YES’, If It Hurts You