AINEC Research Award 2012-2013: Penghargaan Penelitian AIPNI 2012-2013

Pendidikan keperawatan di Indonesia tengah mengalami proses perkembangan secara bertahap dan menuju kesatu arah yang diharapkan yaitu menghasilkan lulusan yang berkualitas, kompeten dan kompetitif melalui penyelenggaraan yang berkualitas. Salah satu komponen penting dalam pelaksanaan perkembangan tersebut adalah tenaga dosen berkualitas dan kompeten. Untuk itu, para dosen ini diharapkan memiliki sertifikat sebagai pendidik profesional.

Upaya untuk memperoleh sertifikat pendidik profesional dapat dicapai melalui jabatan fungsional akademik dimana para dosen dituntut untuk selain menjalankan kegiatan pendidikan tetapi juga untuk melaksanakan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Sampai saat ini masih banyak dosen yang menganggap kegiatan pendidikan adalah tugas utama dosen dan belum menganggap penting terhadap kegiatan penelitian dan pengabdian yang sebetulnya merupakan Tridarma yang mengutamakan ketiga kegiatan tersebut.

Oleh karena itu, perlu upaya serius dan sinergis dari para pengelola pendidikan keperawatan terutama untuk membudayakan kegiatan penelitian sebagai bagian dari kewajiban dan peran fungsi para dosen agar para dosen dapat meningkatkan dirinya untuk menjadi dosen pendidik yang kompeten dan bersertifikat. Untuk itu, AIPNI sebagai asosiasi institusi pendidikan ners di Indonesia yang memiliki misi untuk menjamin terselenggaranya perkembangan keilmuan, kualitas sumber daya dan kegiatan riset pada semua pusat pendidikan ners anggota mengembangkan program hibah penelitian AIPNI bagi dosen periode 2012 – 2013.
LANDASAN PERTIMBANGAN:

Tingginya jumlah dosen keperawatan yang belum memiliki jabatan fungsional akademik.
Tingginya jumlah dosen keperawatan yang belum memiliki sertifikat dosen pendidik profesional.
Belum difahaminya dan dijalankannya kegiatan Tridarma terutama darma penelitian.
Belum terwujudnya budaya meneliti dikalangan dosen.
TUJUAN:
TUJUAN UMUM:
Tujuan diberikannya penghargaan ini adalah untuk membantu mewujudkan pendidikan berkualitas melalui pendidikan berbasis riset dengan meningkatkan budaya meneliti dikalangan dosen.
TUJUAN KHUSUS:

Memotivasi para dosen untuk melaksanakan penelitian.
Meningkatkan kemampuan menulis hasil penelitian (academic writing).
Menginisiasi peluang untuk berkomunikasi secara ilmiah dan langsung dalam forum internasional.
BENTUK PENGHARGAAN:
Dana hibah penelitian sebesar Rp 5.000.000 (lima juta rupiah) per proposal yang disetujui. Disediakan dana untuk 25 buah proposal.
PERIODE:

Penerimaan proposal: 1 Maret sd 30 Maret 2012.
Review proposal: 10 dan 11 April 2012.
Pengumuman proposal yang diterima: 22 April 2012 (karena banyak proposal yang masuk maka panitia memerlukan waktu lebih lama untuk melakukan penilaian)
Proses pendanaan: 50% tanggall 29 April 2012 dan 50% seminggu setelah penerimaan hasil riset.
Penerimaan hasil riset: Deadline 30 Oktober 2012.
AREA PENELITIAN:

Manajemen keperawatan (kepemimpinan, manajemen ruangan, dll)
Keperawatan Klinik (Kepr dewasa, anak, jiwa, maternitas, kritikal, bencana, komplementer, dll).
Keperawatan Komunitas (Kepr komunitas, keluarga, gerontik, bencana, komplementer, jiwa komunitas, dll).
Pendidikan Keperawatan (kurikulum, model pembelajaran, wahana praktik, student supervisory system, dll).
PERSYARATAN DAN TATA TULIS PENELITIAN: Continue reading AINEC Research Award 2012-2013: Penghargaan Penelitian AIPNI 2012-2013

KODE PRAKTIK GLOBAL INTERNASIONAL REKRUTMEN

Perdebatan pelik tentang proses rekrutmen tenaga kesehatan internasional dan dampaknya terhadap sistem kesehatan telah menjadi topik hangat akhir-akhir. Sebagai konsekuensi dari globalisasi kesehatan dan pelayanan kesehatan, setiap negara memiliki kepentingan dalam tujuan jangka panjang untuk memperbaiki sistem kesehatannya. Oleh sebab itu perlunya dibangun konsensus mengenai kode etik global yang memfasilitasi kepentingan semua pihak.
Jumlah tenaga kesehatan yang bermigrasi telah meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, dengan pola migrasi menjadi semakin rumit dan melibatkan lebih banyak negara. Di sisi lain migrasi tenaga kesehatan dapat membawa efek menguntungkan bagi kedua negara, negara pengirim dan tujuan. Migrasi dari negara-negara yang sudah mengalami krisis dalam tenaga kesehatan, khususnya di 57 negara yang diidentifikasi oleh WHO sedang mengalami krisis kekurangan tenaga kesehatan dapat mengakibatkan lemahnya sistem kesehatan dan merupakan penghalang serius bagi pencapaian Millenium Development Goals.
Migrasi tenaga kesehatan internasional merupakan tantangan kesehatan yang kompleks dan multidimensi. Ada semacam kekhawatiran dan beberapa kepentingan baik dari negara pengirim maupun negara maju yang hingga kini masih diperdebatkan. Tawar- menawar hak dan kewajiban dari dua negara yang mewakili dua sisi pelayanan kesehatan itupun mulai dicari titik temunya. Secara umum terdapat beberapa isu yang diangkat diantaranya adalah:
Sumber: Buku KAJIAN SDM KESEHATAN DI INDONESIA

MIGRASI TENAGA KESEHATAN

Pada tahun 2000 hampir 175 juta orang atau 2,9% orang di dunia hidup di luar negaranya masing-masing selama lebih dari 1 tahun. Sekitar 65 juta dari jumlah tersebut masih aktif secara ekonomi (UNPD, 2002). Secara umum, migrasi ini kenaikan yang relative kecil yaitu 2.3% tahun 1965 menjadi 2.9% tahun 2000. Namuan demikian, peningkatan jumlah orang yang bermigrasi sangat signifikan dampaknya bagi negara miskin karena mereka kehilangan SDM berpendidikan ke negara-negara kaya. Sekitar 65% dari seluruh migrant yang masih aktif mencari ekonomi pindah ke negara-negara majuyang digolongkan sebagai “sangat terampil”. Sangat terampil umumnya diasosiasikan telah menyelesaikan pendidikan tambahan dan memiliki pekerjaan professional, dalam hal ini tenaga tersebut diantaranya dokter, perawat dan bidan.

Migrasi tenaga kesehatan professional mempengaruhi suplai nasional dan menjadi salah satu poin penting dalam kebijakan nasional (Kingma, 2007). Globalisasi telah mendorong adanya migrasi. Di saat yang sama, kebutuhan akan tenaga kesehatan meningkat di negara maju dimana tenaga kesehatan disana tidak mencukupi dan tenaga kerja yang ada memasuki usia lanjut. Kebutuhan terhadap layanan kesehatan juga meningkat karena populasi lansia dan meningkatnya penyakit degeneratif. Di sejumlah negara pendapatan menengah dengan sistem pendidikan yang bagus seperti Fiji, Jamaika, Mauritus dan Filipina. Jumlah mahasiswa yang besar khususnya di jurusan keperawatan telah disiapkan untuk dikirim ke luar negeri. Alasannya sederhana, gaji, jenjang karir dan fasilitas yang lebih memadai dibanding dengan pasar kerja dalam negeri. WHO tahun 2010 mengidentifikasi setidaknya ada 4 alasan dibalik migrasi tenaga kesehatan ini yaitu:
Sumber: Buku KAJIAN SDM KESEHATAN DI INDONESIA