Diagnosis dan Pengobatan HIV

Diagnosis dan Pengobatan HIV
Gejala infeksi HIV sesuai dengan fase perjalanan penyakit. Gejala infeksi HIV pada awalnya sulit dikenali, karena seringkali mirip penyakit ringan sehari-hari seperti influenza (flu like sindrome) dan diare sehingga penderita tampak sehat. Kadang dalam enam minggu pertama setelah penularan, timbul gejala tidak khas berupa demam, letih, sakit sendi, sakit menelan dan pembengkakan kelenjar getah bening di bawah telinga, ketiak dan selangkangan. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dan sampai 4-5 tahun mungkin tidak muncul gejala. Pada tahun ke-5 atau ke-6, mulai timbul diare berulang (kronis), penurunan berat badan secara mendadak (> 10%), sering sariawan dan pembengkakan kelenjar getah bening yang nyata (Mitchell and Kumar, 2003).
Cara Elisa Reaktif sangat disarankan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap HIVyang dilakukan sebanyak dua kali. Pada hasil yang positif, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dengan Imunofluoresensi Western Blot untuk memastikan adanya HIV di dalam tubuh. Screening terutama dilakukan pada orang yang mempunyai perilaku berisiko tinggi, seperti sering berganti-ganti pasangan seks, pecandu narkoba suntikan, mendapati gejala penyakit yang khas karena infeksi HIV, menderita penyakit yang memerlukan transfusi darah terus-menerus seperti hemofilia dan sering berhubungan dengan cairan tubuh manusia (Mitchell and Kumar, 2003; Saloojee and Violari, 2001).

Pengobatan HIV
Pengobatan HIV belum ada yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS. Sampai saat ini pengobatan yang ada hanya mampu memperlambat perkembangan HIV, dan memperlambat kerusakan pada sistem kekebalan tubuh tetapi belum ada cara untuk memberantas HIV dari tubuh penderita. Terapi juga ditujukan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi oportunistik. Obat antiretrovirus (ARV) juga mengurangi timbulnya infeksi oportunistik namun masih ada beberapa infeksi oportunistik yang sulit diobati. Kendala dari konsep pengobatan tersebut adalah respon sistem kekebalan tubuh. Respon tubuh akan hilang kecuali bila memakai obat antiretrovirus (ARV) meskipun infeksi HIV juga tetap melaju (Mitchell and Kumar, 2003; Saloojee and Violari, 2001).
Pengobatan AIDS bertujuan untuk mempertahankan keadaan sehat tanpa efek samping yang berarti dalam waktu yang lama. Caranya adalah dengan menekan viral load atau menekan produksi virus dan mengembalikan fungsi sistem imunitas tubuh. Pengobatan AIDS dengan ARV harus bersifat kombinasi karena adanya resistensi virus terhadap ARV. Tiga golongan ARV yang dikenal adalah nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI), nonnucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRI), dan protease inhibitor (PI). Kombinasi ARV bisa berupa 3NRTI, 2NRTI+NNRTI, dan 2NRTI+PI. Penderita AIDS harus menggunakan ARV terus menerus dan apabila pengobatan ARV berhenti, maka akan terjadi resistensi dan kegagalan pengobatan (Sepkowitz, 2001; Fauci and Lane, 2001; Thaker and Snow, 2003).

Leave a Reply