Dolly, HIV-AIDS and Market Demand

This article has been published at RADAR SURABAYA NEWSPAPER in 2004. Dolly is a refer to the red light district in Surabaya, East Java, here the writer criticize the health and social issue.

….Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang
Dosakah yang dia kerjakan?
Sucikah mereka yang datang?…….
Syair lagu lama Titiek Puspa diatas nampaknya sesuai untuk menggambarkan aktivitas di kompleks pelacuran Dolly. Kompleks pelacuran yang mendapat predikat sebagai kompleks pelacuran terbesar se-Asia Tenggara ini semakin menunjukkan keberadaannya. Surabaya dan Dolly memiliki nilai historis tersendiri. Bahkan siapapun yang pernah singgah dikota pahlawan ini setidaknya pernah mendengar istilah Dolly. Entah dari manakah istilah tersebut, tetapi ketika kita menyebut kota pahlawan ini secara otomatis pikiran kita menerawang pada istilah tersebut. Diakui atau tidak, keberadaan Dolly menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi Surabaya.
Pernahkan Dolly sepi? Bahkan dibulan puasa sekalipun tempat ini masih digandrungi oleh lelaki hidung belang. Dolly seakan memiliki magnet tersendiri bagi para penggemarnya. Tidak peduli tua, muda bahkan remajapun tidak sedikit yang terpesona dengan kenikmatan yang ditawarkan dikawasan ini. Hubungan seks sudah menjadi bagian dari bisnis, walaupun bisnis yang ditawarkan tersebut menawarkan bagian tubuh manusia. Dengan menjadikan seks sebagai bisnis, mau tidak mau orang yang terlibat didalamnya harus bekerja secara profesional. Semakin banyak tamu yang berkunjung, semakin dianggap profesional dan meningkat pula omzet yang didapat.
Dolly, dicibir, dicaci, dimaki dan juga dicari. Masyarakat pada umumnya sepakat untuk melihat pelacuran sebagai sisi hitam dalam kehidupan sosial, namun terbukti tak ada satu kekuatanpun dimuka bumi yang mampu menghapusnya. Mengapa? Hanya pasarlah yang bisa menentukan, selama permintaan pasar akan transaksi seksual masih tetap ada selama itulah pelacuran tetap eksis. Para pelanggan datang silih berganti, parkir sesaat, kemudian pulang, kembali ke dunianya masing-masing seolah tidak pernah ada kejadian. Transaksi sesaat yang dilakukan dianggap selingan yang tidak patut diumbar. Ironisnya, lelaki buaya yang bersembunyi di balik dinding kemunafikan ini bukan mustahil adalah orang yang paling fokal mengutuk pelacuran.
HIV/AIDS, Bahaya Global!
Satu hal yang perlu diwaspadai dari keberadaan Dolly di kota metropolitan ini adalah tingginya insiden penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS. Bahaya yang mengintai setiap orang yang bergumul di bisnis seksual ini seolah-olah tenggelam oleh hingar-bingar musik yang dilantunkan dikawasan ini. Badan kesehatan dunia (WHO) melaporkan bahwa 30 juta orang telah meninggal selama dua dekade akibat keganasan virus ini. Sedangkan 40 juta orang terinfeksi virus HIV dan hanya tinggal menunggu ajal menjemput. Bagaimana kondisi di negara kita? Secara resmi kasus HIV/AIDS pertama yang dilaporkan adalah pada seorang turis asing di Bali tahun 1987. Sedangkan data Depkes pada bulan Juni 2004 jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 4.389 kasus. Penelitian yang dilakukan M. Linnan pada tahun 1994 menunjukkan bahwa epidemi AIDS di Indonesia sudah mencapai deret eksponensial dengan pertambahan yang sangat cepat. Industri seks komersial yang luas, pemakaian kondom yang rendah dan mobilitas sosial yang tinggi semakin mempercepat penyebaran virus yang belum ditemukan obatnya ini. Walaupun penularan HIV/AIDS tidak hanya melalui hubungan seksual tetapi hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan memiliki resiko tinggi tertular.
Upaya yang dilakukan selama ini adalah metode ABC (abstinence, be faithful, condom). Tidak berhubungan seks, saling setia dengan pasangan dan selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks masih dianggap cara ampuh untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS. Sosialisasi penggunaan kondom di tempat-tempat transaksi seksual perlu diintensifkan. Tidak hanya kepada pekerja seks komersialnya tetapi juga kepada pelanggan, germo serta masyarakat umum. Meskipun penggunaan kondom belum tentu menjamin tidak tertularnya seseorang dari HIV/AIDS namun setidaknya dapat meminimalkan penularannya.
Tetapi yang perlu ditingkatkan disini adalah kewaspadaan dini anggota masyarakat, sebab HIV/AIDS bukan hanya penyakit orang nakal. Penyakit ini juga tidak hanya penyakit orang asing dan homoseksual. HIV/AIDS telah mewabah dan siap menulari siapapun, tanpa memandang usia, jenis kelamin, ras dan agama. Upaya-upaya promotif dan preventif perlu segera ditingkatkan oleh pemkot dan dinkes setempat, tidak hanya dikawasan bisnis seksual tetapi juga masyarakat luas. Tentunya perang terhadap penyakit HIV/AIDS tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi masyarakat perlu mendukung terciptanya kota Surabaya yang sehat dan selalu waspada terhadap penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS.

Leave a Reply