IBUKU SAYANG, IBUKU MALANG


Oleh: Ferry Efendi
:bingung:
Kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepanjang galah. Pepatah ini sangatlah tepat untuk menggambarkan kondisi kesehatan seorang ibu di Indonesia. Para elit politik yang notabene dilahirkan dari rahim seorang ibu, seakan-akan diam membisu ketika dihadapkan pada tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Akankah kesejahteraan para ibu tetap terabaikan di tahun-tahun mendatang?
Menjadi seorang ibu di Indonesia sangatlah mengenaskan, tidak hanya dari segi sosial, budaya, ekonomi serta pendidikan tetapi juga dari segi kesehatan. Dari segi sosial, posisi perempuan masih mengalami subordinasi di masyarakat. Ketidaksetaraan jender masih menjadi isu sentral di negara kita yang mengakibatkan terampasnya hak-hak perempuan. Padahal perempuan-perempuan inilah yang nantinya akan menjadi calon ibu yang akan menjadi penentu kualitas generasi mendatang. Meskipun telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa ketidaksetaraan jender berakibat pada kehidupan kaum ibu dan kualitas kehidupannya, namun pemerintah masih menganggap masalah tersebut bukan masalah yang urgent. Singkat kata, ketimpangan inilah yang membatasi akses perempuan terhadap hak-haknya sehingga sampai saat ini mereka masih menjadi kaum marginal di negeri yang konon mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
Dari segi pendidikanpun tidak jauh beda, menurut SUSENAS tahun 1999 jumlah perempuan yang berusia 10 tahun ke atas yang buta huruf (14,1%) lebih besar daripada laki-laki pada usia yang sama (6,3%). Masih adanya anggapan pada sebagian masyarakat bahwa perempuan cukup mengenyam bangku Tsanawiyah dan sejenisnya merupakan realitas yang harus dikikis habis. Secara umum, hal ini dapat dilihat dari Human Development Index (HDI) yang bertengger di angka 111 dari 175 negara pada tahun 2004. Pemerintah dalam hal ini Kabinet Indonesia Bersatu mempunyai target prestisius yaitu pada tahun 2009 penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas yang buta huruf tinggal 5%. Pada Deklarasi Dakar tahun 2000 pemerintah menargetkan peningkatan keaksaraan pada perempuan sebesar 50% pada tahun 2015. Akankah target tersebut terpenuhi atau hanya sekedar jargon dan slogan untuk mendongkrak popularitas?
Sedangkan faktor budaya adalah masih kuatnya mitos-mitos budaya berkaitan dengan kesehatan dan pemahaman ajaran agama. Seperti misalnya dilarang makan-makanan tertentu setelah melahirkan dengan alasan akan mengakibatkan vagina berbau amis atau becek. Padahal makanan tersebut jika dipandang dari segi kesehatan sangatlah dibutuhkan tubuh untuk mempercepat kondisi ibu sesudah melahirkan. Mitos-mitos yang berkembang tersebut hanya dapat diberantas dengan pemberian konseling, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat. Tidak hanya kaum ibu, tetapi juga suami dan masyarakat umumnya.
Dan untuk faktor ekonomi, jelas masalah kemiskinan menjadi faktor dominan dalam semua hal. Kemiskinan yang menghinggapi keluarga-keluarga di Indonesia memaksa para ibu bekerja ganda. Selain bekerja di dalam rumah tangga mereka juga harus nyambi untuk mecukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Beratnya beban ganda, baik domestik (di dalam rumah) ataupun publik (di luar rumah) juga merupakan penyumbang angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Kemiskinan harus dibayar mahal, sebab pada kondisi miskin, perempuan terjerat hidup dengan gizi rendah dan akhirnya menderita anemia dan cenderung melahirkan anak dengan berat lahir rendah (BBLR) sehingga dalam proses tumbuh kembang selanjutnya mengalami hambatan. Kemiskinan sangat berpengaruh menentukan tingkat akses dan pelayanan kesehatan bagi perempuan maupun KIE, sehingga disinilah diperlukan kebijakan pemerintah yang pro keluarga miskin segera diimplementasikan.
Meskipun dari tahun ke tahun AKI mengalami penurunan, tetapi angka tersebut masih merupakan angka tertinggi bila dibandingkan dengan negara tetangga kita di kawasan Asia Tenggara. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 1994 AKI sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup, turun menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2003. Dan data lain menyebutkan dua ibu melahirkan meninggal setiap jamnya. Menurut mantan menkes, Achmad sujudi, tiga keterlambatan penyebab tingginya AKI yakni terlambat mengenali bahaya ibu akan melahirkan dan merujuk ke Puskesmas atau rumah sakit (RS), terlambat transportasi menuju Puskemas atau RS dan terlambat memperoleh pertolongan di RS/Puskesmas. Kondisi geografis dan masalah pelik lainnya masih menjadi salah satu faktor perenggut nyawa ibu. Kisah sedih para ibu di negara kita juga diperparah pula oleh kurangnya komitmen pemerintah dalam melakukan investasi kesehatan kepada ibu yang tergolong miskin. Hal ini dapat dilihat dari pos anggaran kesehatan yang tidak pernah lebih dari 3,5%, padahal WHO merekomendasikan untuk meningkatkan derajad kesehatan masyarakat diperlukan anggaran minimal 5% sampai 6% dari total APBN suatu negara.
Penyebab umum kematian ibu di Indonesia (90%) disebabkan oleh pendarahan, toksemia gravidarum, infeksi, partus lama dan komplikasi abortus. Hal ini sangat ironis sekali sebab pada dasarnya hal tersebut dapat dicegah. Penyediaan layanan ante natal care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan yang memadai perlu digalakkan ke berbagai pelosok. Bahkan jika pemerintah benar-benar serius serta menginginkan sumber daya manusia yang berkualitas di daerahnya masing-masing, pemerintah baik pusat maupun daerah dapat secara langsung melakukan subsidi berupa penyediaan ANC secara cuma-cuma disertai pemberian makanan tambahan untuk meningkatkan status gizi bagi ibu hamil. Sebab pada kondisi hamil inilah perkembangan otak sang jabang bayi dipertaruhkan. Dengan meningkatkan asupan gizi, kita telah mengurangi angka resiko kematian ibu dan meningkatkan kualitas generasi mendatang.
Untuk itulah langkah-langkah preventif-promotif perlu ditingkatkan. Baik melalui puskesmas ataupun langsung menuju basis-basis masyarakat dengan AKI yang masih tinggi. Sudah saatnya pemda kabupaten atau kota di era desentralisasi lebih memprioritaskan program kesehatan ibu hamil dan penyelamatan ibu melahirkan, sehingga kaum ibu nantinya dapat hidup sejahtera dan mampu melahirkan generasi-generasi yang cerdas, tangguh dan dapat diandalkan di era globalisasi.
Tulisan ini pernah dipublikasikan di koran Radar Surabaya
www.radarsby.com

One thought on “IBUKU SAYANG, IBUKU MALANG”

Leave a Reply