MORAL VERSUS KEBUTUHAN PASAR

Nampaknya masyarakat kita sekarang sedang terjangkit dua virus yang sangat cepat menjalar. Pertama adalah virus fantasi dan yang kedua adalah virus idol. Hal ini bisa kita lihat dari pertarungan dua stasiun tv besar tersebut, mulai dari audisi, eliminasi, promosi dan janji-janji menuju bintang. Bahkan tidak ketinggalan, untuk merespon kebutuhan pasar maka stasiun televisi yang lainpun mengikuti. TPI dengan KDInya, Trans-TV dengan Pop Star dan seabrek tayangan serupa yang mengikuti.
Dimulai dari virus fantasi, AFI dapat dikatakan sebagai pelopor program reality show di Indonesia. Sejauh ini AFI yang dipandu oleh presenter Adi nugroho telah meraih suskes besar. Dapat dipastikan jika sabtu malam minggu maka semua mata akan menuju channel indosiar. Keberhasilan stasiun TV ini sebagai pelopor acara yang kreatif ini patut diacungi jempol. Acara hiburan yang bergengsi ini telah berhasil membius jutaan pemirsa di seluruh tanah air. Sisi positif dari acara ini adalah bisa menjaring bibit unggul calon entertainer tanpa memandang status sosial, sebab sang juara ditentukan oleh pemirsa lewat sms.
Virus idol bahkan lebih ngetrend lagi. Program reality show yang mengadopsi dari luar ini ternyata berhasil membuktikan bahwa program yang serupa diatas merupakan komoditas yang sangat menjanjikan. Walaupun belum terpilih siapa the first Indonesian idol namun baik RCTI maupun media massa lainnya telah memblow up habis-habisan. Patut diacungi jempol usaha mereka untuk meciptakan demam Indonesia idol, sebab hal tersebut tidaklah sia-sia.
Sebenarnya dari uraian diatas tidaklah mengehrankan lagi jika sesuatu hal yang bersifat menarik dan unik secara otomatis akan menjadi hal yang fenomenalis. Fenomena ini akan tetap hidup tergantung seberapa kuat media tersebut berhasil menggalang opini publik untuk tetap setia mengikuti acara tersebut. Tidak dapat dipungkiri lagi, siapa yang mengikuti kebutuhan pasar maka ia akan tetap survive. Tetapi idealnya setiap acara televisi tidak hanya menonjolkan fungsi hiburan saja, tapi juga fungsi edukatifnya. Sebab kecenderungan acara yang mengarah ke fungsi hiburan saja lebih mengarah ke materialistis. Hal inilah yang seharusnya kita cermati, sebab proporsi hiburan seperti diatas sudah overload. Hampir setiap stasiun televisi mempunyai format acara serupa. Nampaknya hal inilah yang seharusnya dipikirkan oleh pengelola stasiun TV bagaimana tetap survive tanpa harus mengesampingkan unsure edukatifnya.
Anehnya di Indonesia acara-acara yang secara tidak langsung merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia di masa mendatang luput dari sorotan. Kalaupun ada hanya sebatas sekilat info. Dapat kita lihat even-even bergengsi seperti pekan ilmiah mahasiswa nasional yang barusan digelar di bandung, ataupun lomba karya tulis mahasiswa tingkat nasional pada bulan agustus lalu tidak satupun dikupas tuntas oleh media kita. Pamor mereka telah dikalahkan oleh pamor virus fantasi dan virus idol.yang dikhawatirkan adalah pada benak generasi muda kita akan terbesit opini bahwa lebih mudah menjadi bintang daripada ilmuwan. Buat apa susah-susah belajar atau meneliti jika hanya dengan bermodalkan suara kita bisa menjadi bintang. Mungkin inilah yang harus kita pikirkan bersama sebagai dampak negatif dari acara tersebut.
Ferry Efendi

Leave a Reply