Deputi KLN dan Promosi BNP2TKI : Indonesia Alami Kelebihan Tenaga Kesehatan

Padang, BNP2TKI, Kamis (03/11/2016) – Indonesia mengalami “temporary surplus” (kelebihan) tenaga kesehatan khususnya perawat dan bidan. Setiap tahunnya Indonesia mencetak lebih kurang 43 ribu orang lulusan di bidang kesehatan. Namun, hanya lebih kurang 10% yang terserap di lapangan pekerjaan. Hal tersebut diungkapkan oleh Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi Elia Rosalin pada acara sosialisasi peluang kerja ke luar negeri Stikes Syedza Saintika Padang pada Sabtu (29/11/2016).

“Indoonesia telah mengalami keadaan dimana jumlah tenaga kesehatan yang ada, melebihi lapangan pekerjaan yang tersedia. Diperkirakan lebih dari 38 ribu orang tenaga kesehatan tidak bekerja dan sekitar 31 ribu diantaranya adalah perawat”, ujar Elia Rosalin kepada peserta sosialisasi yang terdiri dari 22 sekolah kesehatan di Sumatera Barat.

Menurut data BAN PT pada tahun 2015 diketahui jumlah institusi yang memiliki program kesehatan sebanyak 863. Setiap tahunnya meluluskan lebih kurang 43 ribu tenaga kesehatan. Hal tersebut tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan dibidang kesehatan yang tersedia. Dari data Kementerian Kesehatan diketahui  jumlah Rumah Sakit di Indonesia sebanyak 2.406 dan sebanyak 514 Rumah sakit di setiap Kabupaten/Kota. Jika daya serap setiap rumah sakit sebanyak 3 orang pertahun maka ada lebih kurang 7 ribu tenaga kesehatan yang bekerja. Jika daya serap rumah sakit daerah kabupaten/ kota pertahun 7 atau 8 orang maka terdapat lebih kurang 3 ribu tenaga kesehatan yang terserap.

“Penempatan tenaga kesehatan Indonesia ke luar negeri sangat dibutuhkan untuk memperluas kesempatan kerja, mengatasi adanya “temporary surplus” (kelebihan) tenaga kesehatan khususnya perawat dan bidan”, tambah Elia Rosalin.

Perawat Profesional Taraf Internasional

Kondisi tenaga kerja di Indonesia tidak sesuai dengan permintaan atau demand dari luar negeri. Selain disebabkan oleh budaya dan bahasa, juga disebabkan oleh kompetensi. Untuk dapat menempatkan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri khususnya perawat, diperlukan perawat profesional. Perawat profesional tersebut telah menyelesaikan pendidikan keperawatan dan praktik keperawatan yang dibuktikan dengan sertifikasi. Sertifikasi yang dimiliki harus diakui oleh dunia internasional. Salah satunya adalah RN, yang merupakan tanda pertukaran/migrasi perawat kawasan ASEAN.

“Beberapa negara yang membutuhkan perawat seperti Timur Tengah, USA dan Australia membutuhkan perawat dengan sertifikasi. Mereka bahkan mengadakan uji sertifikasi sendiri seperti uji Prometic/ HAAD untuk Timur Tengah”, ungkap Elia Rosalin.

Mengatasi hal tersebut, pemerintah melalui BNP2TKI melakukan upaya up skill, dimana perawat diberikan pelatihan sesuai dengan permintaan dari luar negeri. Untuk pelaksanaan program upgrading skill perawat yang berminat bekerja di luar negeri dibutuhkan enam syarat.

Pertama, kesiapan untuk bekerja di luar negeri yang dibuktikan dengan mengisi form kesediaan. Kedua, adanya lembaga upgrading skill yang memiliki surat penetapan/ penunjukan dari BNP2TKI. Ketiga, adanya fasilitator yang bersetifikat. Keempat, kurikulum/silabus yang sesuai dengan negara penempatan. Kelima, pembiayaan yang mengadakan kerjasama dengan lembaga perbankan atau keuangan. Terakhir, lisensi dan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Profesi.

“Kendala dan masalah yng timbul akibat “temporary surplus” (kelebihan) tenaga kesehatan perlu dihadapi bersama dengan dibangunnya sistem health worker kompoten. Sehingga tercipta sistem standar dan sertifikasi sesuai negara tujuan penempatan. Infrastuktur lembaga Training perlu dikembangkan bukan hanya lembaga pendidikan”, solusi Elia Rosalin terhadap masalah yang ada. *** (Humas/bp3tkipadang/dba)

Source: http://www.bnp2tki.go.id/read/11779/Deputi-KLN-dan-Promosi-BNP2TKI-:-Indonesia-Alami-Kelebihan-Tenaga-Kesehatan-.html

Caring-Learning-Sharing-Keperawatan-Perawat