Data dan bukti sangat penting untuk menginformasikan kepada pembuat keputusan yang bergerak di dalam perencanaan program dan kebijakan SDM Kesehatan, manajemen, monitoring dan evaluasi. Pengembangan bukti dasar yang komprehensif pada SDM Kesehatan secara umum memerlukan kombinasi berbagai jenis informasi, atau sumber yang tersedia (sensus, survey, pengkajian fasilitas kesehatan, registrasi pada organisasi profesi dan sumber administratif lainnya seperti susunan kepegawaian dan catatan latihan). Monitoring dan evaluasi yang efektif memerlukan kerjasama yang bagus antara satu sama lain dan bisa menjadi sumber informasi terpercaya.
Pemetaan ini terdiri dari 5 tahapan yaitu (WHO, 2010):
Pendahuluan
Tool merupakan perangkat atau alat bantu yang bisa kita gunakan untuk memfasilitasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Tool ini sangat berguna untuk menunjang atau menyelesaikan pekerjaan yang kita lakukan. Walaupun secara harfiah tool merupakan alat konkret tetapi tool bisa juga berupa perangkat abstrak. Tool dapat juga berupa prosedur atau proses. Misal dalam membangun suatu rumah sakit tentunya kita memerlukan peralatan berat dan bentuknya dapat dilihat dan dirasakan keberadaannya (tool konkret), traktor misalnya. Selain itu pembangunan tersebut juga memerlukan tool penghitungan SDM yang dibutuhkan, tool kendali mutu, serta tool-tool lainnya (tool abstrak). Pada pokok bahasan kali ini kita akan membahas tentang tool yang digunakan dalam Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Formulasi kebijakan dan strategi Sumber Daya Manusia Kesehatan di tingkat nasional, lokal maupun organisasi memerlukan perencanaan berbasis bukti untuk merasionalisasikan pilihan-pilihan.
Distribusi tenaga kesehatan merupakan upaya pendistribusian SDM Kesehatan ke wilayah yang dianggap memerlukan dengan prinsip keadilan dan pemerataan pelayanan. Pendistribusian dan penempatan tenaga kesehatan ini merupakan wewenang dari pemerintah sesuai dengan amanat Pasal 26 Undang-undang Kesehatan No. 36 tahun 2009. Idealnya, tenaga kesehatan terdistribusi dengan baik sehingga memenuhi kecukupan rasio yang ditentukan, tetapi permasalahan umum yang dihadapi saat ini adalah distribusi yang tidak merata atau berimbang yang dikenal dengan istilah maldistribusi.
Maldistribusi tenaga kesehatan dapat dikaitkan dengan ketidakseimbangan antara demand dan supply tenaga kesehatan. Secara umum, dalam kaitannya dengan tidak seimbangnya distribusi SDM kesehatan, Zurn et al., (2004) menyatakan bahwa tipologi ketidak seimbangan adalah: