Jepang Tampung 1.000 Perawat dari RI

Tokyo, Sabtu – Pemerintah Jepang akan menampung 1.000 tenaga perawat dan pengasuh kesehatan dari Indonesia sejak awal tahun 2008. Kesediaan Jepang ini berdasarkan perjanjian kerja sama ekonomi bilateral, sekaligus juga untuk membantu mengatasi kekurangan perawat dan pengasuh kesehatan yang dihadapi Jepang sekarang ini.

Harian bisnis Nikkei edisi Sabtu (22/12) melaporkan, langkah yang diambil Tokyo ini merupakan pertama kalinya negara itu menampung tenaga perawat dan pengasuh kesehatan sebagai pekerja penuh. Langkah pertama ini dengan menampung perawat dan pengasuh kesehatan asal Indonesia.

Menurut Nikkei, untuk dua tahun mendatang, mulai bulan April 2008, Jepang setiap tahun akan menampung 200 perawat berizin dan 300 pengasuh kesehatan bersertifikat. Apabila program ini berjalan baik, jumlah pekerja yang ditampung tadi akan ditingkatkan pada tahun ketiga.

Tenaga kerja perawat dibatasi hanya selama tiga tahun, sementara pengasuh kesehatan selama empat tahun berdasarkan izin dan sertifikat Indonesia. Namun, mereka kini bisa diperpanjang izin menetapnya, setelah menjalani ujian keperawatan atau menerima sertifikat pengasuh kesehatan Jepang.

Para pekerja medis ini akan bekerja sebagai asisten pada rumah sakit-rumah sakit atau fasilitas klinik kesehatan yang ada, setelah terlebih dahulu mendapat kursus bahasa Jepang.

Menurut Nikkei, kesediaan Jepang ini diatur berdasarkan perjanjian kemitraan ekonomi (economic partnership agreement/ EPA) yang ditandatangani bulan Agustus lalu di Jakarta, saat PM Shinzo Abe berkunjung ke Indonesia. EPA sudah disetujui Indonesia. Pemerintah Jepang sudah mengajukan perjanjian ini ke parlemen awal bulan ini, dengan harapan segera disetujui atau paling lambat awal tahun 2008.

Menurut Nikkei, Kementerian Kesehatan Jepang memperkirakan membutuhkan 40.000 perawat asing pada tahun depan. Kebutuhan akan perawat akan mencapai 450.000 hingga 550.000 pada 2014. (AFP/ppg)

diambil dari www.kompas.com

ANALYSIS FACTOR RELATED TO PSYCHOLOGICAL RESPONSE of SOCIETY AFTER MUD DISASTER of LAPINDO SIDOARJO*

Mud disaster of Lapindo is a stressor to society becoming its victim. Loss everything which initially owned to generate psychological response which all kinds. Psychological response include denial, anger, bargaining, depression and acceptance. Psychological response of  mud victim society of Lapindo influenced by internal factors and eksternal factors. The objective of this research is to analyse factors related to psychological response of mud victim society of Lapindo Sidoarjo.

It’s an analytic descriptive research. The population was citizen of Renokenongo village RT 01 / 01. Sample size was 66 respondents who met the inclusion criteria. The selection of the sample was conducted using probability sampling that is simple random sampling. Data were collected using Kubler Ross’s psychological response questionnare and open question. Data were analyze by analysis content and using  Spearman’S Rho statistical test with signifikan level at < 0,05.

The result of research show psychological response most of mud victim society of Lapindo  is acceptance 63%, denial 6%, bargaining  25%, anger 3% and depression 3%. Most of responder’s age are 20-30 year ( 38%), 36% responder’s education are junior high school and 53% responder do not work after evacuate. The result of statistical test show there is no significant relation between age and psychological response with p = – 0,279, there is no significant relation netween education level with psychological response with p = 0,277 and there is significant relation between job and psychological response with p = 0,001.

            Significant relation between age and education level with psychological response will seen if the age and education level of responder are heterogeneous. So, it’s need to do research again to get an acurat result.

 

Keyword : Psychological response, mud disaster, Lapindo

*By : Suratmi (Alumni of Nursing School Airlangga University-Indonesia)

IZIN PRAKTIK KEPERAWATAN

Persyaratan yang harus dipenuhi dalam mengajukan izin praktik keperawatan diantaranya :
Dasar Hukum :

Kepmenkes 1239/Menkes/SK/XI/2001

Persyaratan :

1. Surat Permohonan bermaterai Rp 6.000,00

2. Surat Pernyataan tunduk aturan bermaterai Rp 6.000,00

3. Foto copy SIP

4. Foto copy ijazah keperawatan

5. Foto copy KTP

6. Surat keterangan sehat dari dokter pemerintah

7. Rekomendasi PPNI Cabang

8. Pas foto berwarna 4 x 6 ; 2 lembar

9. Surat keterangan tidak keberatan dari atasan jika PNS

Biaya :

bervariasi

Waktu Penyelesaian :

bervariasi

Berlaku :

5 tahun

Caring-Learning-Sharing-Keperawatan-Perawat