Tag Archives: ferry efendi

Improving Medical Specialist Service in District Hospitals: Increasing the Number of Medical Specialist and Nurse Diploma IV

1Anna Kurniati, 2Ferry Efendi, 1Nurul Aidil Adhawiyah
1Center for Planning and Management of Human Resources for Health
Ministry of Health, The Republic of Indonesia
Jl. Hang Jebat Raya F3, Kebayoran Baru Jakarta, 12120
2Faculty of Nursing Airlangga University Indonesia
Jl. Mulyorejo Kampus C Unair Surabaya 60115

Abstract
In overcoming the HRH crisis, the Kampala Declaration (KD) and the Agenda for Global Action (AGA) in year 2008 had set up some indicators to help countries in monitoring the progress of actions taken. Indonesia is including 57 countries categorized suffering HRH crisis. The shortage of HRH occur in most of category health workers, particularly medical specialist, doctors, dentist, midwives, nutritionist and public health.
The district hospitals play important roles in the referral system. However, most district hospitals do not meet the national minimum standard, especially the availability of basic medical specialists (child health, internist, surgery and obstetric gynecology) and other supporting specialists. In line with the KD/AGA on scaling up health worker education and training, starting from year 2008, the Ministry of Health have provided scholarship for medical doctors and dentist who are willing to attend medical specialist training, and scholarship for nurses to upgrade their education level to Diploma IV (specialist training). In return, they have to pay for service for certain period depending on the hardship level of the working locations. Implementation of this program requires strong coordination among MoH, MONE (particularly through medical schools and nursing schools), MOF and the local government both in the province and district levels.
This paper will describe the experience of Indonesia in monitoring the implementation of strategy to improve the access of community to quality health services, especially through increasing the number of medical specialist and nurse Diploma IV for the district hospitals.

Keywords: scholarship, district hospitals, coordination.

PEMBERDAYAAN KADER MASYARAKAT SECARA ACTIVE CASE FINDING SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN OUTBREAK TB PARU

TB Paru dilaporkan kembali outbreak di daerah Malang,Jatim, , bahkan tidak tanggung-tanggung angka kejadian TB Paru mencapai 100% (Kompas, 22/2). Tentunya hal ini bisa menjadi iklan buruk bagi kinerja pemerintah sekarang khususnya Departemen Kesehatan dan dinkes setempat. Walaupun permasalahan TB Paru itu sendiri tidak menjadi tanggung jawab sector kesehatan semata tetapi hal ini bisa dijadikan cambuk dan evaluasi bagi kinerja bidang kesehatan dalam rangka mensukseskan program pemberantasan TB Paru di Indonesia.
TB Paru tidak hanya menjadi masalah di negara kita tetapi penyakit yang menyerang organ pernafasan ini telah dinyatakan sebagai bahaya global. WHO sendiri memberikan predikat kepada bangsa kita sebagai penyumbang kasus TB Paru terbesar ketiga setelah India dan Cina. Berbagai riset dan pengembangan terapi mutakhir tentang TB Paru sedang dikembangkan tetapi seakan-akan hal tersebut tidak mampu membendung penyebaran bakteri tahan asam tersebut. Continue reading PEMBERDAYAAN KADER MASYARAKAT SECARA ACTIVE CASE FINDING SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN OUTBREAK TB PARU

MORAL VERSUS KEBUTUHAN PASAR

Nampaknya masyarakat kita sekarang sedang terjangkit dua virus yang sangat cepat menjalar. Pertama adalah virus fantasi dan yang kedua adalah virus idol. Hal ini bisa kita lihat dari pertarungan dua stasiun tv besar tersebut, mulai dari audisi, eliminasi, promosi dan janji-janji menuju bintang. Bahkan tidak ketinggalan, untuk merespon kebutuhan pasar maka stasiun televisi yang lainpun mengikuti. TPI dengan KDInya, Trans-TV dengan Pop Star dan seabrek tayangan serupa yang mengikuti.
Dimulai dari virus fantasi, AFI dapat dikatakan sebagai pelopor program reality show di Indonesia. Sejauh ini AFI yang dipandu oleh presenter Adi nugroho telah meraih suskes besar. Dapat dipastikan jika sabtu malam minggu maka semua mata akan menuju channel indosiar. Keberhasilan stasiun TV ini sebagai pelopor acara yang kreatif ini patut diacungi jempol. Acara hiburan yang bergengsi ini telah berhasil membius jutaan pemirsa di seluruh tanah air. Sisi positif dari acara ini adalah bisa menjaring bibit unggul calon entertainer tanpa memandang status sosial, sebab sang juara ditentukan oleh pemirsa lewat sms.
Virus idol bahkan lebih ngetrend lagi. Program reality show yang mengadopsi dari luar ini ternyata berhasil membuktikan bahwa program yang serupa diatas merupakan komoditas yang sangat menjanjikan. Walaupun belum terpilih siapa the first Indonesian idol namun baik RCTI maupun media massa lainnya telah memblow up habis-habisan. Patut diacungi jempol usaha mereka untuk meciptakan demam Indonesia idol, sebab hal tersebut tidaklah sia-sia.
Sebenarnya dari uraian diatas tidaklah mengehrankan lagi jika sesuatu hal yang bersifat menarik dan unik secara otomatis akan menjadi hal yang fenomenalis. Fenomena ini akan tetap hidup tergantung seberapa kuat media tersebut berhasil menggalang opini publik untuk tetap setia mengikuti acara tersebut. Tidak dapat dipungkiri lagi, siapa yang mengikuti kebutuhan pasar maka ia akan tetap survive. Tetapi idealnya setiap acara televisi tidak hanya menonjolkan fungsi hiburan saja, tapi juga fungsi edukatifnya. Sebab kecenderungan acara yang mengarah ke fungsi hiburan saja lebih mengarah ke materialistis. Hal inilah yang seharusnya kita cermati, sebab proporsi hiburan seperti diatas sudah overload. Hampir setiap stasiun televisi mempunyai format acara serupa. Nampaknya hal inilah yang seharusnya dipikirkan oleh pengelola stasiun TV bagaimana tetap survive tanpa harus mengesampingkan unsure edukatifnya.
Anehnya di Indonesia acara-acara yang secara tidak langsung merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia di masa mendatang luput dari sorotan. Kalaupun ada hanya sebatas sekilat info. Dapat kita lihat even-even bergengsi seperti pekan ilmiah mahasiswa nasional yang barusan digelar di bandung, ataupun lomba karya tulis mahasiswa tingkat nasional pada bulan agustus lalu tidak satupun dikupas tuntas oleh media kita. Pamor mereka telah dikalahkan oleh pamor virus fantasi dan virus idol.yang dikhawatirkan adalah pada benak generasi muda kita akan terbesit opini bahwa lebih mudah menjadi bintang daripada ilmuwan. Buat apa susah-susah belajar atau meneliti jika hanya dengan bermodalkan suara kita bisa menjadi bintang. Mungkin inilah yang harus kita pikirkan bersama sebagai dampak negatif dari acara tersebut.
Ferry Efendi