TEKNIK PENATAAN CAHAYA PADA AKTIVITAS BACA YANG NYAMAN DAN SEHAT

Oleh: Andi Cahyadi
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Belajar adalah kegiatan untuk mendapatkan informasi baru yang meliputi kegiatan menulis dan membaca buku. Proses belajar memanfaatkan mata sebagai sebagai sarana penglihatan (Goodrich, 1987). Untuk dapat menginterpretasi simbol bahasa/tulisan, mata memerlukan pencahayaan yang cukup, menyehatkan dan nyaman (Huer, 1983). Lampu belajar menjadi penting untuk digunakan, terutama ketika kita belajar di malam hari. Sampai saat ini rekomendasi atau standar tentang lampu belajar belum ada.
Permasalahan yang sering muncul dalam proses membaca adalah apabila cahaya yang dipakai kurang memadai (Chen, 1987). Selain menciptakan suasana kurang nyaman, kondisi tersebut juga dapat menimbulkan gangguan faal penglihatan, baik temporer maupun menetap (Huer, 1983) yang terutama terjadi di malam hari (Horton and Smart, 1988). Penerangan yang memadai bisa mencegah terjadinya astenopia dan mempertinggi kecepatan serta efisiensi membaca (White, 1992). Penerangan yang kurang memadai sering menimbulkan kelelahan mata (Horton and Smart, 1988). Penerangan yang kurang maupun berlebih memaksa mata berakomodasi melebihi kemampuannya yang akhirnya dapat menimbulkan kelelahan mata diikuti kelelahan fisik. Kelelahan yang timbul dapat menyebabkan hasil belajar kurang maksimal dan pekerjaan tertunda. Demikian pula penempatan sumber cahaya yang salah justru semakin tidak baik (Allphin, 1970). Untuk itulah diperlukan standarisasi pencahayaan lampu belajar untuk mendapatkan kenyamanan dan kesehatan mata dalam belajar (Huer, 1983). Standar tersebut harus memperhatikan aspek psikologis, adaptasi mata, arah dan distribusi cahaya, kuantitas penerangan, persepsi warna dan pemilihan sumber cahaya itu sendiri.
Penerangan dalam proses belajar dengan menggunakan lampu belajar memerlukan beberapa faktor yang semuanya tidak bisa diabaikan. Umumnya sering terjadi kesalahan dalam menempatkan lampu belajar (lampu meja), yaitu ditaruh tepat di depan pembaca (White, 1992). Dengan posisi demikian, cahaya yang dipantulkan maupun dipancarkan dapat langsung masuk ke dalam mata sehingga menyilaukan (White, 1992). Masing-masing faktor dalam penerangan baca sudah mempunyai nilai baku (Wibisono, 2001), akan tetapi belum ada standar komplementasi yang mencakup semua komponen.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan disampaikan dalam penulisan ini adalah bagaimanakah standar baku penerangan untuk aktivitas baca yang nyaman dan tidak menganggu faal penglihatan mata?

1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mendapatkan komplementasi kuantitas, kualitas, penempatan dan pemilihan sumber cahaya untuk kenyamanan dan tidak menganggu faal penglihatan mata.

1.3.2 Tujuan Khusus
1. mendapatkan analisis kuantitas dan kualitas penerangan lampu belajar untuk mendapatkan suasana belajar yang kondusif, nyaman dan menyehatkan.
2. mendapatkan analisis penempatan sumber penerangan lampu belajar untuk mendapatkan suasana belajar yang kondusif, nyaman dan menyehatkan.
3. menentukan analisis pemilihan sumber penerangan lampu belajar untuk mendapatkan suasana belajar yang kondusif, nyaman dan menyehatkan.,

1.4 Manfaat Penulisan
1. Memperoleh kenyamanan dan ketekunan belajar, menulis dan membaca yang akhirnya terwujud
2. Mencegah gangguan, bahkan kerusakan faal penglihatan yang disebabkan faktor pencahayaan.
3. Mendapatkan hasil belajar yang efektif, efisien dan optimal.
4. Mendorong pengembangan teknologi rancang bangun lampu belajar maupun penataan interior ruang yang terkait dengan penerangan.

Leave a Reply